Kamis, 01 November 2012

Makalah serotinus dan Askeb serotinus

TUGAS      : ASKEB LANJUT II
DOSEN      : PESTA CORY SIHOTANG,Dipl.Mid,S.KM,M.Kes
PENETALAKSANAAN ASUHAN KEBIDANAN SEROTINUS

DISUSUN OLEH :
·         HAJRAH
·         NUR INDAH
DIV KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES RI MAKASSAR
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan aterm adalah usia kandungan antara 38-42 minggu dan ini merupakan periode terjadinya persalinan normal. Namun, sekitar 3,4-14% atau rata-rata 10% kehamilan berlangsung sampai 42 minggu atau lebih. Angka ini bervariasi dari bebearpa penelitian bergantung pada kriteria yang dipakai.
Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Neagle dengan siklus haid rata-rata 28 hari dan belum terjadi persalinan. Kehamilan lewat waktu merupakan salah satu kehamilan yang beresiko tinggi, di mana dapat terjadi komplikasi pada ibu dan janin. Diagnosis usia kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan dari perhitungan usia kehamilan, seperti rumus Naegele atau dengan tinggi fundus uteri serial.
Kehamilan postterm mempunyai resiko lebih tinggi daripada kehamilan aterm, terutama terhadap kematian perinatal (antepartum, intrapartum, dan postpartum) berkaitan dengan aspirasi mekonium dan asfiksia.
Kehamilan postterm terutama berpengaruh terhadap janin, meskipun hal ini masih banyak diperdebatkan dan sampai sekarang masih belum ada persesuaian paham. Dalam kenyataannya kehamilan postterm mempunyai pengaruh terhadap perkembangan janin sampai kematian janin. Ada janin yang dalam masa kehamilan 42 minggu atau lebih berat badannya meningkat terus, ada yang tidak bertambah, ada yang lahir dengan berat badan kurang dari semestinya, atau meninggal dalam kandungan karena kekurangan zat makanan dan oksigen.
Kehamilan postterm mempunyai hubungan erat dengan mortalitas, morbiditas perinatal, atau makrosomia. Sementara itu, risiko bagi ibu dengan kehamilan postterm dapat berupa perdarahan pascapersalinan ataupun tindakan obstetrik yang meningkat. Berbeda dengan angka kematian ibu yang cenderung menurun, kematian perinatal tampaknya masih menunjukkan angka yang cukup tinggi, sehingga pemahaman dan penatalaksanaan yang tepat terhadap kehamilan postterm akan memberikan sumbangan besar dalam upaya menurunkan angka kematian, terutama kematian perinatal.

BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Persalinan Postterm
 Pengertian
·         Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007).
·         Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin ( Varney Helen, 2007).
·         Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari (Prawirohardjo, 2008).

Etiologi
·         Etiologi belum diketahui secara pasti namun faktor yang dikemukaan adalah hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain seperti herediter, karena postmaturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu (Rustam, 1998).
·         Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan oksitosin tubuh dan reseptor terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan lewat waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap rangsangan, karena ketegangan psikologis atau kelainan pada rahim (Manuaba, 1998).
·         Menurut Sujiyatini (2009), etiologinya yaitu penurunan kadar esterogen pada kehamilan normal umumnya tinggi. Faktor hormonal yaitu kadar progesterone tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Factor lain adalah hereditas, karena post matur sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu.
·         Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi, yaitu 30% prepartum, 55% intrapartum, dan 15% postpartum.
Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut :
  • Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang paling sering.
  • Tidak diketahui.
  • Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan.
  • Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus, merupakan penyebab yang jarang terjadi.
  • Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi.
  • Faktor genetik juga dapat memainkan peran.

Patofisiologi
Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak menyebabkan adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga janin mempunyai resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim (Manuaba, 1998).
Sindroma postmaturitas yaitu kulit keriput dan telapak tangan terkelupas, tubuh panjang dan kurus, vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua, kuku panjang, tali pusat selaput ketuban berwarna kehijauan. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 34-36 minggu dan setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan postterm dapat terjadi penurunan fungsi plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat janin. Bila keadaan plasenta tidak mengalami insufisiensi maka janin postterm dapat tumbuh terus namun tubuh anak akan menjadi besar (makrosomia) dan dapat menyebabkan distosia bahu.
Sebab Terjadinya Kehamilan Postterm
Seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan, sampai saat ini sebab terjadinya kehamilan postterm sebagai akibat gangguan terhadap timbulnya persalinan. Beberapa teori diajukan antara lain sebagai berikut :
  1. Pengaruh Progesteron
Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin, sehingga beberapa penulis menduga bahwa terjadinya kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesterone.
  1. Teori Oksitosin
Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebab kehamilan postterm.
  1. Teori Kortisol/ACTH Janin
Dalam teori ini diajukan bahwa “pemberi tanda” untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anensefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan.
  1. Saraf Uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebab terjadinya kehamilan postterm.
  1. Herediter
Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seorang ibu mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar kemungkinan anak perempuannya akan mengalami kehamilan postterm.

Resiko
Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat terjadi 3 kali dari pada kehamilan aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspiration syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi yang dapat mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan neurologik. Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage) kepala kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum.

Manifestasi Klinis
  • Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang jarang, yaitu secara subyektif kurang dari 7 kali/20 menit atau secara obyektif dengan KTG kurang dari 10 kali/20 menit.
  • Air ketuban berkurang dengan atau tanpa pengapuran (klasifikasi) plasenta diketahui dengan pemeriksaan USG.
  • Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu yang terbagi menjadi :
Stadium I        : kulit kehilangan verniks kaseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
Stadium II       : seperti Stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) di kulit.
Stadium III     : seperti Stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali  pusat.
Menurut Muchtar (1998), pengaruh dari serotinus adalah :
  1. Terhadap Ibu :
Pengaruh postmatur dapat menyebabkan distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, maka akan sering dijumpai patus lama, inersia uteri, dan perdarahan postpartum.
  1. Terhadap Bayi :
Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan 40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi seperti berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang terjadi kematian janin dalam kandungan, kesalahan letak, distosia bahu, janin besar, moulage.


Tanda bayi Postmatur (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998), yaitu :
  • Biasanya lebih berat dari bayi matur (> 4000 gram)
  • Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur
  • Rambut lanugo hilang atau sangat kurang
  • Verniks kaseosa di badan kurang
  • Kuku-kuku panjang
  • Rambut kepala agak tebal
  • Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel

Diagnosis
Tidak jarang seorang dokter mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis kehamilan postterm karena diagnosis ini ditegakkan berdasarkan umur kehamilan, bukan terhadap kondisi kehamilan. Beberapa kasus yang dinyatakan sebagai kehamilan postterm merupakan kesalahan dalam menentukan umur kehamilan. Kasus kehamilan postterm yang tidak dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sebesar 22%.
Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada keraguan, maka pengukuran tinggi fundus uterus serial dengan sentimeter akan memberikan informasi mengenai usia gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkurang dan gerakan janin yang jarang.
Dalam menentukan diagnosis kehamilan postterm di samping dari riwayat haid, sebaiknya dilihat pula hasil pemeriksaan antenatal. 



Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilanlewat waktu, antara lain :
  1. HPHT jelas.
  2. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu.
  3. Terdengar denyut jantung janin (normal 10-12 minggu dengan Doppler, dan 19-20 minggu dengan fetoskop).
  4. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan kurang dari atau sama dengan 20 minggu.
  5. Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid.

Pemeriksaan Penunjang
Menurut Sujiyatini dkk (2009), pemeriksaan penunjang yaitu USG untuk menilai usia kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas plasenta. KTG untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin.
Menurut Mochtar (1998), pemeriksaan penunjang sangat penting dilakukan, seperti pemeriksaan berat badan ibu, diikuti kapan berkurangnya berat badan, lingkaran perut dan jumlah air ketuban. Pemeriksaan yang dilakukan seperti :
  1. Bila wanita hamil tidak tahu atau lupa dengan haid terakhir setelah persalinan yang lalu, dan ibu menjadi hamil maka ibu harus memeriksakan kehamilannya dengan teratur, dapat diikuti dengan tinggi fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya janin dapat membantu diagnosis.
  2. Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan untuk memeriksa ukuran diameter biparietal, gerakan janin dan jumlah air ketuban. Bila telah dilakukan pemeriksaan USG serial terutama sejak trimester pertama, maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia kehamilan. Pemeriksaan Ultrasonografi pada kehamilan postterm tidak akurat untuk menentukan umur kehamilan. Tetapi untuk menentukan volume cairan amnion (AFI), ukuran janin, malformasi janin dan tingkat kematangan plasenta.
  3. Pemeriksaan berat badan ibu, dengan memantau kenaikan berat badan setiap kali periksa, terjadi penurunan atau kenaikan berat badan ibu.
  4. Pemeriksaan Amnioskopi dilakukan untuk melihat derajat kekeruhan air ketuban menurut warnanya yaitu bila keruh dan kehitaman berarti air ketuban bercampur mekonium dan bisa mengakibatkan gawat janin (Prawirohardjo, 2005).
Kematangan serviks tidak bisa dipakai untuk menentukan usia kehamilan. Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penentuan keadaan janin dapat dilakukan :
  1. Tes tanpa tekanan (non stress test).
Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar janin baik.
  1. Gerakan janin.
Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 kali/20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10 kali/20 menit), dapat juga ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG (normal > 1 cm/bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata oligohidramnion, maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.
  1. Amnioskopi.
Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33% asfiksia.

Tatalaksana
Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya bagi janin postterm sehingga setiap persalinan kehamilan posterm harus dilakukan pengamatan ketat dan sebaiknya dilaksanakan di rumah sakit dengan pelayanan operatif dan perawatan neonatal yang memadai.
Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik (pelvic score).
Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain :
  1. Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley.
  2. Induksi dengan oksitosin.
  3. Bedah seksio sesaria.
The American College of Obstetricians and Gynecologist mempertimbangkan bahwa kehamilan postterm (42 minggu) adalah indikasi induksi persalinan. Penelitian menyarankan induksi persalinan antara umur kehamilan 41-42 minggu menurunkan angka kematian janin dan biaya monitoring janin lebih rendah.
Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka). Selain itu, pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya.
Table 1. Skor Bishop

0
1
2
3
Pendataran serviks
0-30%
40-50%
60-70%
80%
Pembukaan serviks
0
1-2
3-4
5-6
Penurunan kepala dari Hodge III
-3
-2
-1, 0
+1, +2
Konsistensi serviks
Keras
Sedang
Lunak

Posisi serviks
Posterior
Searah sumbu jalan lahir
Anterior

  • Bila nilai pelvis (PS) > 8, maka induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil.
  • Bila PS > 5, dapat dilakukan drip oksitosin.
  • Bila PS < 5, dapat dilakukan pematangan servik terlebih dahulu, kemudian lakukan pengukuran PS lagi.
Tatalaksana yang biasa dilakukan ialah induksi dengan Oksitosin 5 IU. Sebelum dilakukan induksi, pasien dinilai terlebih dahulu kesejahteraan janinnya dengan alat KTG, serta diukur skor pelvisnya. Jika keadaan janin baik dan skor pelvis > 5, maka induksi persalinan dapat dilakukan. Induksi persalinan dilakukan dengan Oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose 5%. Tetesan infus dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul his yang adekuat. Selama pemberian infus, kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan hingga persalinan. Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat diberikan infus drip Oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul, dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria.  
Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada :
  1. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang
  1. Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau
  2. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.
Pada kehamilan yang telah melewati 40 minggu dan belum menunjukkan tanda-tanda inpartu, biasanya langsung segera diterminasi agar resiko kehamilan dapat diminimalis.

Komplikasi
1.      Menurut Mochtar (1998), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu :
1)      Plasenta
·         Kalsifikasi
·         Selaput vaskulosinsisial menebal dan jumlahnya berkurang
·         Degenerasi jaringan plasenta
·         Perubahan biokimia
2)      Komplikasi pada Ibu
Komplikasi yang terjadi pada ibu dapat menyebabkan partus lama, inersia uteri, atonia uteri dan perdarahan postpartum.
3)      Komplikasi pada Janin
Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti berat badan janin bertambah besar, tetap atau berkurang, serta dapat terjadi kematian janin dalam kandungan.
2.      Menurut Prawirohardjo (2006), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu komplikasi pada janin. Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti gawat janin, gerakan janin berkurang, kematian janin, asfiksia neonaturum dan kelainan letak.
3.      Menurut Achdiat (2004), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu komplikasi pada janin. Komplikasi yang terjadi seperti kelainan kongenital, sindroma aspirasi mekonium, gawat janin dalam persalinan, bayi besar (makrosomia) atau pertumbuhan janin terlambat, kelainan jangka panjang pada bayi.
Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7-8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat. Untuk itu perlu diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu.
Pengelolaan selama persalinan adalah :                                        
      Pemantauan yang baik terhadap ibu ( aktivitas uterus ) dan kesejahteraan janin. Pemakaian continous electronic fetal monitoring sangat bermanfaat
      Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan.
      Awasi jalannya persalinan
       Persiapan oksigen dan bedah sesar bila sewaktu-waktu terjadi kegawatan janin
      Cegah terjadinya aspirasi mekoneum dengan segera mengusap wajah neonatus dan penghisapan pada tenggorokan saat kepala lahir dilanjutkan resusitasi sesuai prosedur pada janin dengan cairan ketuban bercampur mekoneum.
      Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda postmaturitas

Skill
·         Terhadap ibu : Langkah-langkah tindakan induksi
·         Terhadap bayi : Langkah- langkah penanganan Asfiksia bayi baru lahir







PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN INTRANATAL PATOLOGI
PADA NY “S” DENGAN KEHAMILAN SEROTINUS
DI RSUD SYEKH YUSUF GOWA MAKASSAR
TANGGAL 23 AGUSTUS 2012

No.Register                             : 449/10
Tgl.Masuk                               : 22 Agustus 2012, jam 15.50 wita
Tgl.Pengkajian                        : 23 Agustus 2012, jam 22.00 wita
Tgl.Partus                                : 23 Agustus 2012, jam 01.00 wita

LANGKAH I. IDENTIFIKASI DATA DASAR
A.   IDENTITAS ISTRI / SUAMI
Nama                                      : Ny “S” / Tn “A”
Umur                                       : 25 tahun / 26 tahun
Suku                                        : Mksr / Mksr
Agama                                    : Islam / Islam
Pendidikan                              : SMP/SMA
Pekerjaan                                : IRT/ Wiraswasta
Alamat                                     : BTN Duta Mas

DATA SUBJEKTIF (S)
1)    Ibu mengatakan kehamilannya yang pertama
2)    Ibu mengatakan hari pertama haid terakhir tanggal 06-10-2011
3)    Ibu mengatakan haid teratur setiap 28-30 hari, lamanya 5-7 hari, menarche 14 tahun, tidak ada riwayat dismenorhe
4)    Ibu mengatakan tidak pernah menjadi akseptor KB sebelum kehamilan ini
5)    Selama hamil nafsu makan ibu baik dan tidak ada makanan pantangan
6)    Ibu mengatakan tidak nyeri perut hebat selama hamil
7)    Selama hamil nafsu makan ibu baik dan tidak ada makanan  pantangan
8)    Ibu mengatakan tidak pernah nyeri perut hebat selama hamil
9)    Ibu mengeluh nyeri perut tembus ke belakang sejak tanggal 22 Agustus 2012
10) Ibu mengatakan tidak nyaman akibat nyeri
11) Ibu mengatasi daerah perut dengan mengurut-urut daerah bokong

DATA OBJEKTIF (O)
1)    Nampak pembesaran perut dengan stiae albicans
2)    GI P0 A0
3)    HTP tanggal 13-07-2012
4)    Tanda-tanda vital:
Tekanan darah            : 120/70 mmHg
Nadi                             : 84x/menit
Suhu                            : 36,5°C
Pernapasan                 : 24x/menit
5)    Palpasi abdomen:
leopold I           = TFU 3 jrbpx (31 cm)
leopold II          = PU-KA
leopold III         = kepala
leopold IV        = BDP
6)    Pukul 22.10 wita HIS 4x /10 menit, durasi 30-35’ DJJ 138x/menit,
Pukul 22.40 wita His 4x /10 menit, durasi 30-35’ DJJ 138x/menit, N :84x/menit,
Pukul 23.10 wita His 4x /10 menit, durasi 30-35’ DJJ 138x/menit, N :84x/menit
Pukul 23.40 wita His 4x /10 menit, durasi 30-35’ DJJ 138x/menit, N :84x/menit
Pukul 00.10 wita His 4x /10 menit, durasi 30-35’ DJJ 138x/menit, N :84x/menit
7)    Tidak ada oedema dan varices pada tungkai bawah
8)    VT: jam 22.10 wita
-          Vulva dan vagina tak ada kelainan
-          Portio lunak dan tipis
-          Pembukaan 6 cm
-          Ketuban utuh
-          Presentase kepala
-          Penurunan HII-HIII
-          Molase tidak ada
-          Penumbungan tidak ada
-          Penggul terkesan normal
-          Pelepasan lender
9)    DataPenunjang
PemeriksaanUSG       : gestasi 43 minggu 4 hari,persentase kepala, PU-KA, intra uterin, tunggal, hidup, keadaan janin baik


ASSESMENT (A)
DIAGNOSA: GI P0 A0, gestasi 43 minggu 4 hari,persentase kepala, PU-KA, intra uterin, tunggal, hidup, keadaan ibu dan janin baik, kala 1 fase aktif.
PLANNING (P)
Tanggal 23 Agustus 2012
1)    Menjelaskan penyebab nyeri yang dirasakan oleh ibu, yaitu karena tekanannya ujung-ujung sewaktu uterus (corpus) berkontraksi dan tegangnya segmen bawah rahim (SBR).
2)    Mengajarkan pada ibu cara relaksasi dan pengaturan nafas pada saat kontraski dengan cara menarik nafas melalui hidung dan menghembuskan secara perlahan melalui mulut
3)    Memberi tahu ibu hasil pemeriksaan
4)    Memberi intake cairan dan makanan pada ibu
5)    Mengajarkan ibu untuk miring ke salah satu sisi dan berjalan-jalan
6)    Mengobservasi kemajuan persalinan HIS 4x10 /menit, durasi 30-35
DJJ 138x/menit
Melakukan pemeriksaan dalam jam 23.50 wita
Vulva dan vagina tak ada kelainan
Portio tidak teraba
Pembukaan 10 cm
Ketuban utuh
KALA II
DATA SUBJEKTIF (S)
1)    Ibu mengatakan ingin BAB dan ada tekanan pada anus
2)    Ibu mengatakan ada orongan untuk meneran
3)    Ibu mengataakan sakitnya bertambah kuat tembus ke belakang
DATA OBJEKTIF (O)
1)    Perineum menonjol, vulva dan anus membuka
2)    VT jam 00.40 wita
a.    Vulva dan vagina tak ada kelainan
b.    Portio tidak teraba
c.    Pembukaan 10 cm
d.    Ketuban Mekonium
e.    Presentase kepala
f.     Penurunan HIV
g.    Molase tidak ada
h.    Penumbungan tidak ada
i.      Penggul terkesan normal
j.      Pelepasan lendir
3)    Pukul 00.40 wita His 4x /10 menit, durasi 35-40’ DJJ 138x/menit, N :84x/menit

4)    DJJ 140x/menit kuat dan teratur
5)    Keadaan umum ibu baik
6)    Tampak ibu ingin meneran

ASSESMENT (A)
            Perlangsungan kala II

PLANNING (P)
Tanggal 23 Agustus 2010
1)    Kolaborasi dengan dokter anak untuk persiapan penanganan asfiksia
2)    Menyiapkan perlengkapan untuk menolong
-                      Bak partus berisi:
o   2 buah klem
o   1 buah setengah koher
o   1 buah kateter logam
o   1 buah gunting tali pusat
o   1 pasang handscoem
o   Duk steril
o   Kasa steril
o   Pengikat tali pusat
o   Spoit steril 3 cc berisi 1 amp injek/IM
-    Larutan klorin 0,5 % dan iar DTT
-    Tempat sampah (basah dan kering)
-    Tempat plasenta
-    Pakaian ibu dan bayi
-    Persiapan penolong
o   Memakai celemek
o   Membuka semua perhiasan
o   Membersihkan sabun dan membilasnya dengan air bersih yang mengalir kemudian mengeringkan dengan handuk
o   Memasang hanscoend
3)    Mengajarkan pada ibu cara meneran yang baik, yaitu meneran pada puncak his sambil menarik kedua paha, siku menyentuh tempat tisur, posisi kepala diangkat kedepan (diberi posisi setengah duduk)
4)    Memberi minum dan makanan
5)    Memasang handuk diatas perut ibu
6)    Memasang kain bersih atau steril 1/3 dibawah bokong ibu
7)    Memimpin persalinan, menyokong, menahan puncak kepala agar tidak terjadi defleksi terlalu cepat
8)    Membersihkan mulut, hidung, dan bayi dengan ghas steril
9)    Memeriksa lilitan tali pusat
Hasil    : tidak ada ;lilitan tali pusat
10) Menunggu kepala janin malakukan putaran paksi luar secara spontan
11) Melahirkan bahu dengan menggunakan ke dua tangan depan/antrior, lalu tarik kebawah dengan hati-hati melahirkan bahu belakang/posterior
Hasil    : bahu lahir normal
12) Melahirkan bada bayi dengan sanggah susur
Hasil    : bayi lahir spontan PBK, tanggal 23 agustus 2010, jenis kelamin perempuan, BB  3000.
PB 50 cm. AS 8/10
13) Menjepit tali pusat  ±3 cm dari pangkaal pusat, jepit kedua ± 2 cm dari jepitan pertama lalu potong tali pusat diantara kedua klem tersebut
14) Mengikat ali pusat dan membungkus badan bayi dengan kain yang bersih dan kering


KALA III
DATA SUBJEKTIF (S)
            Ibu mengeluh nyeri perut bagian bawah

DATA OBJEKTIF (O)
1)    Anak lahir tidak segera menangis PBK tgl 23 agustus 2010, jenis kelamin perempuan, BB 3000, PB 50, AS 6/10
2)    Kontraksi uterus baik (bundar dan keras)
3)    TFU setinggi pusat
4)    Plasenta belum lahir
5)    Tali pusat memanjang

ASSESMENT (A)
            Perlangsungan kala III, Bayi asfiksia

PLANNING (P)
1)    Melakukan resusitas bayi baru lahir
Hasil : Resusitas berhasil A/S 8/10
2)    Memeriksa uterus untuk memastikan janin tunggal atau ganda
Hasil: tunggal
3)    Melakukan manejemen aktif kala III
a.    Menyuntik oxcitocin 1 amp/im
b.    Melakukan PTT dengan cra tangan kanan meregangkan tali pusat saat ada kontraksi , tangan kiri menekan di atas sympisis secara dorso-kranial
c.    Melahirkan plasenta dengan cara menarik searah sumbu jalan lahir, memudahkan memegang dengan kedua tangan dan memutarnya sesuai kurva jalan lahir untuk mencegah perdarahan
Hasil: plasenta lahir jam
d.    Melakukan masase fundus uteri dengan palmar dan mengajarkan pada ibu
4)    Memeriksa plasenta
Hasil: kotiledon dan selaput ketuban lahir lengkap, insersi tali pusat marginalis, panjangnya ±50 cm
5)    Memasukkan plasenta pada tempat yang telah disediakan

KALA IV
DATA SUBJEKTIF (S)
Ibu mengeluh kelelahan

DATA OBJEKTIF (O)
1)    plasenta dan selaput ketuban lahir lengkap jam 01.35 wita
2)    TFU 1 jari bpst
3)    Perdarahan ± 100 cc
4)    Ibu nampak lelah setelah proses persalinan

ASSESMENT (A)
            Perlangsungan kala IV

PLANNING (P)
Tanggal 23 Agustus 2010
1)    Memeriksa jalan lahir
Hasil: tidak ada ruptur perineum
2)    Mengobservasi kontraksi uterus
Hasil: uterus teraba bundar dan keras
3)    Mengobservasi TFU
Hasil: TFU teraba 1 jr bpst
4)    Mengobservasu perdarahan
Hasil: perdarahan ± 100 cc
5)    Mengobservasi tanda-tanda vital
Tekanan darah                        : 110/80 mmHg
Nadi                                         : 84x/menit
Suhu                                        : 36,5°C
Pernapasan                             : 24x/menit
6)    Memberikan makanan dan minuman pada ibu yang dibantu oleh keluarganya
Hasil: ibu makan makanan yang telah diberikan
7)    Menciptakan rasa nyaman pada ibu dengan cara membersihkan ibu dari sisa-sisa darah, air ketuban dan mengganti pakaian ibu
8)    Memberikan bayi pada  ibu untuk disusui
9)    Melengkapi partograf


DAFTAR PUSTAKA
Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran :EGC
Prawiroharjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
_____. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : YayasanBina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Varney, Helen Dkk.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC
Wiknjosastro. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
APN. 2008. Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta: Institusi DEPKES RI
Sulaiman S dkk.2004.Obstetri patologi.Jakarta:EGC



Poskan Komentar