Jumat, 31 Mei 2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Masa bayi dan balita merupakan masa yang rentang terhadap berbagai jenis penyakit. Salah satu penyakit yang paling sering menyerang bayi dan balita adalah diare. Menurut penelitian, diare pada kelompok umur dibawah lima tahun merupakan penyebab kematian terbanyak yakni mencapai 23,2% (Subijanto dkk 2007).
Air memiliki manfaat penting bagi kesehatan seperti meningkatkan kemampuan kognitif, pencegahan batu dan infeksi kandung kemih hingga mencegah obesitas. Cegah gangguan kesehatan dengan minur air yang cukup.
Air adalah komponen terbesar di dalam tubuh manusia. Kandungannya bervariasi sesuai usia, misalnya pada bayi terdapat 80 persen air, pada orang dewasa sebesar 60 persen dan pada usia lanjut atau di atas 65 tahun sebesar 50 persen.
Pada masa gestasi akhir sampai minggu pertama sesudah kelahiran, fungsi ginjal mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga mempengaruhi keseimbangan air dan garam. Air di dalam tubuh terdapat di dalam sel (intraseluler) atau di luar sel (ekstraseluler). Pada masa gestasi akhir cairan ekstraseluler bertambah,  tetapi pada waktu lahir terjadi perubahan fisiologik yang menyebabkan berkuangnya cairan ekstraseluler.  Dengan ginjal yang makin matur dan beradaptasi  dengan kehidupan ekstrauterin, eksresi urin bertambah mengakibatkan berkurangnya cairan ekstraseluler. Kecepatn filtrasi glomerulus berkurang, sehingga kehilangan Natrium melalui urin berkurang dan kecepatan reabsorbsi ginjal terhadap natrium melalui tubulus juga berkurang. Pada bayi prematur karena fungsi ginjal yang imatur, ketidakseimbangan ini lebih berat.
Kadar air dalam lean body mass bayi (tubuh tanpa jaringan lemak) kurang lebih 82%. Apabila bayi kehilangan cairan 5% atau lebih, kan terjadi dehidrasi.

B.    Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah tentang pemeriksaan saraf ini adalah:
1.      Mengetahui definsi dari diare
2.      Mengetahui tanda dan gejala diare
3.      Mengetahui defenisi dehidrasi
4.      Mengetahui tanda dan gejala dehidrasi pada neonatus.
5.      Mengetahui penyebab dehidrasi pada neonatus.
6.      Mengetahui penanganan dehidrasi pada neonatus.

C.    Manfaat
Makalah ini dibuat tidak semata-mata hanya untuk memenuhi tugas kelompok, tapi juga agar bermanfaat bagi semua pihak yaitu:
1.    Bagi Mahasiswa
Mahasiswa lebih paham tentang dehidrasi pada neonatus, baik dari tanda dan gejalanya serta penanganan dehidrasi pada neonatus.
2.    Bagi Dosen
Dosen dapat menemukan sesuatu yang baru tentang dehidrasi pada neonatus jika terdapat opini dan hal-hal baru yang ditemukan oleh mahasiswa.









BAB I I
KAJIAN PUSTAKA

A.     Defenisi
1.      Diare
Diare merupakan keadaan di mana seseorang menderita mencret-mencret, penderita buang air berkali-kali, tiga kali sampai lima kali sehari, fesesnya encer dan kadang-kadang mengandung darah atau lendir. Diare menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui feses. Bila penderita diare terlalu banyak kehilangan cairan tubuh maka hal ini dapat menyebabkan kematian, terutama pada bayi dan anak-anak di bawah umur lima tahun (IDAI 2006)
Diare dikatakan sebagai keluarnya tinja berbentuk cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam dua jam pertama, dengan temperatur rectal diatas 38 derajat Celsius (Soegianto, 2002:73).
Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak bila frekuensinya lebih dari 3 kali (Bagian IKA FKUI, 2005:283).
Diare merupakan gangguan pencernaan yang sering dialami oleh semua orang terutama bayi dan anak-anak. Diare dapat mengancam jiwa bayi dan anak, karena bayi dan anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi orang dewasa. Hingga kini penyakit diare masih merupakan salah satu penyakit utama bagi bayi dan anak (Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Oktober 2006).
Diare adalah buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi tiga kali atau lebih dalam 24 jam. (Dwi Maryanti dkk, 2011)

2.      Dehidrasi
Dehidrasi adalah berkurangnya cairan tubuh total, dapat berupa hilangnya air lebih banyak dari natrium (dehidrasi hipertonik), atau hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama (dehidrasi isotonik), atau hilangnya natrium yang lebih banyak daripada air (dehidrasi hipotonik).
Dehidrasi pada bayi terjadi ketika bayi tidak mendapatkan cairan yang cukup untuk kebutuhan tubuhnya, biasanya terjadi jika muntah-muntah, diare, panas tinggi atau mengeluarkan keringat yang banyak. Dehidrasi bisa ringan dan mudah diatasi, bisa juga parah dan membahayakan jiwa.
B.    Klasifikas
1.      Diare
a.     Diare akut
       Dimulai dengan keluarnya tinja yang cair tanpa terlihat adanya darah dan berakhir dalam 14 hari dan biasanya kurang dari 7 hari
b.     Diare dengan terlihat darah di dalam tinja
      Keluar tinja sedikit-sedikit dan sering, anak yang lebih besar akan mengeluh sakit perut, sakit waktu BAB. Efek yangb lama anorexia, kehilangan berat badan yang cepat dan kerusakan mukosa usus karena invasi bakteri
c.      Diare persisten
       Diare yang berakhir 14 hari atau lebih. Episodenya dapat dimulai dengan diare akut atau disentri, kehilangan BAB yang nyata sering terjadi dehidrasi
d.     Diare Kronik.
       Diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu. Ketentuan ini berlaku bagi orang dewasa, sedangkan pada bayi dan anak ditetapkan batas waktu dua minggu.
Proses terjadinya diare dipengaruhi dua hal pokok, yaitu konsistensi feses dan motilitas usus, umumnya terjadi akibat pengaruh keduanya.


Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1977) :
1.     Dehidrasi ringan : dimana berat badan menurun 3 – 5 % dengan volume cairan yang hilang kurang dari 50 ml/kgBB.
2.     Dehidrasi sedang : dimana berat badan menurun 6 – 9 % dengan volume cairan yang hilang kurang dari 50 – 90 ml/kgBB.
3.     Dehidrasi berat : dimana berat badan menurun lebih dari 10 % dengan volume cairan yang hilang sama dengan atau lebih dari 100 ml/kgBB.

2.      Dehidrasi
Dehidrasi berdasarkan Penurunan Berat Badan, Yaitu:
a.     Dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan).
b.     Dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan)
c.      Dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan).

C.    Gejala Klinik
1     Diare
Gejala klinik yang timbul tergantung dari intensitas dan tipe diare, namun secara umum tanda dan gejala yang sering terjadi adalah :
a.    Sering buang air besar lebih dari 3 kali dan dengan jumlah 200 – 250 gr.
b.    Anorexia.
c.    Vomiting.
d.    Feces encer dan terjadi perubahan warna dalam beberapa hari.
Terjadi perubahan tingkah laku seperti rewel, iritabel, lemah, pucat, konvulsi, flasiddity dan merasa nyeri pada saat buang air besar.
e.    Respirasi cepat dan dalam.
f.     Kehilangan cairan/dehidrasi dimana jumlah urine menurun, turgor kulit jelek, kulit kering, terdapat fontanel dan mata yang cekung serta terjadi penurunan tekanan darah.

2       Dehidrasi pada bayi
a.     Lebih dari 6 jam tidak pipis
b.     Pipisnya berwarna lebih gelap dari biasanya dan baunya lebih kuat
c.      Lemah dan lesu
d.     Mulut dan bibir kering atau pecah-pecah
e.     Tidak keluar air mata ketika menangis

3       Ciri-ciri
a.     Ciri bayi yang diare
Ø  Jumlah urin yang lebih sedikit
Ø  Rewel
Ø  Haus
Ø  Tidak ada air mata ketika menangis
Ø  Lesu dan tidur terus
Ø  Kulit bayi menjadi tidak elastis
b.     Bayi yang Dehidrasi
Ø  Haus berlebihan
       Ini terlihat jelas, tetapi jika bayi kurang cairan dia secara alami akan merasakan dorongan untuk minum lebih banyak. Bayi mungkin menangis sampai diberikan botol dan kemudian terus mengisap sampai semua air, susu atau jus habis. Ini adalah tanda dehidrasi ringan dan sedang.
Ø  Terlihat lesu dan tidak sehat
       Bayi yang tampak lesu mungkin menderita dehidrasi serius serta harus diberikan cairan dan dibawa ke dokter segera. Kelesuan pada bayi meliputi kurangnya energi, keinginan untuk berbaring sepanjang hari dan kurangnya memperlihatkan emosi.
Ø  Hilangnya elastisitas kulit
       Dehidrasi pada bayi dapat menyebabkan hilangnya elastisitas kulit. Jika kita mencoba dengan lembut mencubit kulit anak, tidak cepat kembali ke posisi normal, ini bisa menjadi tanda dehidrasi. Hal ini terjadi karena tidak cukup air mencapai kulit.
Ø  Mulut kering dan lengket
       Bayi yang tidak terhidrat dengan benar sering menunjukkan gejala mulut kering. Hal ini dapat disertai dengan air liur putih atau busa di sudut mulut bayi.
Ø  Popok kering
       Popok bayi kering selama lebih dari beberapa jam dan tentu tidak boleh kering selama lebih dari 5 atau 6 jam. Hal ini dapat terjadi bila bayi dehidrasi karena tubuhnya menggunakan sedikit cairan yang diminum dan juga hanya mengeluarkan sedikit cairan. Sembelit adalah gejala serupa, walaupun ini mungkin hasil dari hal-hal lain seperti nafsu makan yang buruk atau sistem pencernaan lambat.
ciri lainnya dari dehidrasi:
Ø  Mata cekung
Ø  Tangan dan kaki terasa dingin dan terlihat kemerahan
Ø  Rewel dan mengantuk berlebihan
Ø  Ubun-ubun cekung

4       Etiologi
Ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:
a.      Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
Ø  Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.
Ø  Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.
b.      Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:
Ø  Malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.
Ø  Kurang kalori protein.
Ø  Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.
Diare juga dapat disebabkan oleh faktor psikologi, misalnya ketakutan atau jenis-jenis stress tertentu yang diperantarai oleh stimulasi usus oleh saraf para simpatis.
Juga terdapat jenis diare yang ditandai oleh pengeluaran feses dalam jumlah kecil tapi sering. Penyebab diare jenis ini anatara lain adalah Kolitis Ulserativa dan penyakit Crohn. Kedua penyakit ini memiliki komponen fisik dan psikologik.

5       Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah:
a.      Gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
b.      Rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
c.      Gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:
a.      Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis). Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.
b.      Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak gangguan gizi.
 Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
Ø  Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat.
Ø   Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama.
Ø  Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
c.      Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.

6       Pemeriksaan Diagnostik
a.      Pemeriksaan tinja:
Ø  Makroskopis dan mikroskopis
Ø  PH dan kadar gula dalam tinja
Ø  Bila perlu diadakan uji bakteri
b.    Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
c.    Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
d.    Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.

7       Komplikasi
a.      Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
b.      Renjatan hipovolemik.
c.      Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).
d.      Hipoglikemia.
e.      Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
f.       Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
g.      Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.

8       Mencegah Dehidrasi
Pencegahan dehidrasi harus dilakukan terutama ketika bayi sedang sakit atau hari sangat panas,
Cara mencegah dehidrasi:
1.      Memberikan cairan yang banyak kepada bayi.
2.      Jika umur bayi sudah lebih dari empat bulan, berikan juga banyak air putih.
3.      Ketika memberikan jus buah pada bayi, campurlah dengan air supaya cairannya lebih banyak.
Hal yang perlu diperhatikan saat penanganan dehidrasi pada kondisi berikut ini:
1.      Demam: berikan banyak cairan jika bayi anda demam. Jika ia terlihat kesulitan dalam menelan, berikan obat anti nyeri atas petunjuk dokter.
2.      Kepanasan: terlalu banyak aktivitas di hari yang panas, atau duduk diam dalam waktu lama di ruang yang panas dan penuh sesak bisa menyebabkan berkeringat deras dan kehilangan cairan. Berikan cairan lebih banyak dari biasanya dalam kondisi seperti ini.
3.      Diare: jika bayi sedang menderita infeksi saluran pencernaan atau flu perut, ia akan kehilangan cairan melalui diare dan muntah-muntah. Jangan berikan jus buah karena akan memperparah sakitnya. Jangan juga sembarangan memberikan obat anti diare tanpa petunjuk dokter. Yang perlu dilakukan adalah memberikan ASI atau susu botol lebih banyak dari biasanya, juga tambahan air putih untuk bayi di atas empat bulan. Jika bayi sudah terlihat mulai dehidrasi segera berikan cairan elektrolit.
4.      Muntah-muntah: infeksi pencernaan atau virus dapat menyebabkan muntah-muntah. Berikan cairan elektrolit sedikit-sedikit tapi sering, yaitu dua sendok teh setiap lima menit. Jika bayi bisa bertahan tidak muntah selama satu jam, mulai berikan cairan elektrolit empat sendok teh 15 menit sekali.
5.      Menolak minum: radang tenggorokan, sakit di tangan, kaki, mulut bisa sangat menyakitkan dan membuat bayi tidak mau minum. Konsultasi pada dokter untuk memberikan obat anti nyeri, kemudian tawari ASI atau susu botol dan air putih, sedikit-sedikit tapi sering.






BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
1.    Dehidrasi adalah berkurangnya cairan tubuh total, dapat berupa hilangnya air lebih banyak dari natrium, atau hilangnya air dan natrium dalam jumlah yangsama, atau hilangnya natrium yang lebih banyak daripada air.
2.    Dehidrasi pada bayi terjadi ketika bayi tidak mendapatkan cairan yang cukup untuk kebutuhan tubuhnya, biasanya terjadi jika muntah-muntah, diare, panas tinggi atau mengeluarkan keringat yang banyak. Dehidrasi bisa ringan dan mudah diatasi, bisa juga parah dan membahayakan jiwa.
3.    Dehidrasi ini di bagi menjadi tiga yaitu ringan, sedang dan berat.
4.    Ciri-ciri Bayi yang Dehidrasi : haus berlebihan, terlihat lesu dan tidak sehat, hilangnya elastisitas kulit, popok kering, mata cekung.

B.   Saran
Kami mengaharap dan menghimbau kepada para pembaca apabila ada kesalahan atau kekeliruan baik kata-kata atau penyusunan dalam pembuatan makalah, agar memberikan saran dan kritik yang bisa mengubah penulis kearah yang lebih baik dalam penulisan makalah selanjutnya.